Vamos di AFC 2017: Kurang Adaptasi atau Masalah Mental?

Vamos di AFC 2017: Kurang Adaptasi atau Masalah Mental?

Oleh Alhimni Rusdi

Perjalanan Vamos Mataram di AFC Futsal Club Championship 2017 diakhiri dengan kemenangan. Setelah selalu takluk di dua laga awal penyisihan grup B, wakil Indonesia ini akhirnya mampu menumbangkan wakil Tajikistan, Disi Invest, dengan skor 5-2. Hasil ini membuat Vamos menduduki peringkat tiga grup B dengan raihan 3 poin dari 3 pertandingan. Bukan hasil yang buruk, mengingat Vamos berada di grup yang berisikan tim yang lebih berpengalaman seperti runner up musim lalu Nafit Al Wasat dan wakil Qatar Al Rayyan SC yang mana tahun ini menjadi keikutsertaan mereka yang ke empat dalam ajang ini.

Namun, bagi para pendukung Vamos dan pencinta futsal Indonesia, menarik untuk menilik berbagai faktor yang mungkin menjadi batu sandungan bagi Vamos Mataram. Berikut beberapa faktor tersebut:

Proses adaptasi pemain baru yang belum maksimal

Menyongsong kompetisi yang mempertemukan para juara liga nasional di level Asia ini, Vamos menggaet beberapa pemain baru seperti Syauqi Saud Lubis, Alfajri Zikri, Tricahyo Ramadhan dan legiun asing Said Bouzambou. Menjelang keberangkatan ke Vietnam, Vamos kembali merekrut pemain baru yaitu kiper Mataram FC Moch Irvan untuk menggantikan Rio Julio yang cedera.

Datangnya para pemain baru ini diharapkan mampu menambah variasi dan kualitas permainan Vamos Mataram, namun pada kenyataannya di ajang AFC Futsal Club Championship 2017 ini para pemain ini terlihat masih belum sepenuhnya nyetel dengan para punggawa lama. Syauqi Saud yang sempat bersinar di AFC Futsal Championship U-20 bersama timnas Indonesia pun terlihat masih belum bisa menandingi kecepatan dan determinasi dua flank andalan Vamos yaitu Bambang Bayu Saptaji dan Ali Abedin.

Punggawa asing asal Belanda, Said Bouzambou pun terlihat masih beradaptasi dengan skema permainan racikan pelatih Reza Fallahzadeh. Sentuhan sentuhan yang seharusnya bisa memanjakan Bayu Saptaji dan Ali Abedin jarang terlihat. Performanya tampak berada di bawah pivot timnas Indonesia, Andri Kustiawan yang mampu mengemas 5 gol di ajang ini. Selain itu, kontribusi Said dalam bertahan pun terlihat masih kurang, keadaan ini sangat terlihat saat gol ke 2 Nafit Al Wasat dimana Said terlambat untuk turun bertahan dan akhirnya berujung pada gol yang menambah keunggulan Nafit Al Wasat.

Ketergantungan kepada beberapa pemain

Pada dua laga awal, coach Reza memasang M Nazil, Sunny Rizki, Ali Abedin, Bayu Saptaji dan Said Bouzambou sebagai starter, bukan sebuah pilihan yang buruk mengingat kualitas yang dimiliki starting line up ini. Namun persoalan muncul saat keempat pemain outfield ini (minus M Nazil) terlalu dipaksakan dan diforsir tenaganya. Ketergantungan ini berdampak buruk di dua laga awal ini.

Di laga pertama melawan Al Rayyan, hilangnya stamina yang berujung pada menurunnya konsentrasi pemain membuat Diego Costa mampu mencetak gol penentu kemenangan di akhir laga. Sedangkan di laga kedua melawan Nafit Al Wasat, dimana coach Reza memberikan instruksi untuk melakukan full pressing dari awal pertandingan, alhasil stamina para starter ini terkuras yang berakibat pada runtuhnya konsentrasi sehingga lawan mampu mencetak gol tambahan, keadaan ini terjadi di gol ke 5 Nafit Al Wasat oleh Hasan Ali Dakheel yang dengan mudahnya memperdaya Sunny untuk mencetak gol tambahan bagi timnya. Sunny sendiri bersama dengan Ali Abedin dan Bayu Saptaji, menjadi pemain yang mendapat minute play paling banyak di ajang ini.

Padahal sejatinya, para pemain yang tidak berada di starting line up mulai dari Ardy Dwi, Reza Yamani, Syahidansyah Lubis sampai Andri Kustiawan bukanlah pemain yang sembarangan. Performa mereka pun cukup diacungi jempol saat turun bersamaan di paruh kedua pertandingan melawan Nafit Al Wasat, sejumlah peluang berbahaya mampu mereka ciptakan disana.

Konsep set piece yang belum matang

Kekurangan tim-tim Indonesia bila dibandingkan dengan tim raksasa futsal dunia seperti Spanyol dan Brazil adalah konsep set piece yang belum matang. Keadaan ini terlihat saat pertandingan pertama melawan Al Rayyan yang dilatih oleh Carlos Cesar Gago asal Spanyol. Wakil Qatar ini terlihat memiliki banyak variasi dalam sepakan bola mati yang mampu cukup merepotkan kiper Vamos, M Nazil Purnama.

Mental yang terlambat panas

Kondisi mental Vamos terutama di laga pertama saat melawan Al Rayyan layak mendapatkan sorotan lebih, terutama di babak pertama dimana para pemain terlihat masih demam panggung. Keadaan ini terlihat di gol pertama Al Rayyan yang dihasilkan dari kesalahpahaman antara M Iqbal Iskandar dan Andri Kustiawan yang mampu dimanfaatkan dengan sempurna oleh Diego Costa. Sebuah gol yang cukup fatal karena membuat mereka kalah tipis dan membawa beban untuk harus menang di laga kedua saat melawan Nafit Al Wasat.

Di laga kedua, mental Vamos yang banyak dihuni oleh para pemain timnas Indonesia patut diacungi jempol. Vamos tampil menekan sejak awal dan mampu menghasilkan sejumlah peluang berbahaya melalui Bayu Saptaji dan Ali Abedin di awal laga. Meskipun harus takluk 3-6 oleh Nafit Al Wasat, mentalitas Vamos untuk berjuang hingga akhir laga patut diacungi jempol.

Di laga terkhir grup melawan wakil Tajikistan, Disi Invest, yang merupakan laga perebutan tempat ketiga, Vamos mampu tampil lepas dan tanpa beban sehingga mampu mencuri gol cepat di awal laga yang berkesudahan 5-2 untuk keunggulan Vamos tersebut.

Beberapa catatan diatas memang bukanlah catatan yang bagus bagi juara Pro Futsal League Indonesia 2017 ini, namun catatan diatas bisa menjadi evaluasi bagi manajemen Vamos untuk berbenah dalam menghadapi kompetisi yang akan bergulir di tahun 2018 ini. Di tangan coach Reza Fallahzadeh, dan ditambah dengan mumpuninya pemain yang dimiliki oleh Vamos Mataram, sepertinya hanya tinggal menunggu waktu saja bagi Vamos untuk berjaya di level ASEAN bahkan Asia. Go Vamos Go!

Foto: vamosmataram

Baca juga:
Indonesia di AFF Futsal Championship 2017, Optimis atau Pesimis?
Kemampuan Indonesia Mengatasi Ketegangan di Laga Pembuka Munculnya duet andalan baru, Subhan-BBS ...
Belajar Dari Perjuangan Vamos Mataram di Vietnam
Oleh Hasbiallah Vamos FC Mataram harus gigit jari setelah gagal bersinar di AFC Futsal Championship...
4 Tugas Penting Victor Hermans Tukangi Timnas Futsal
Victor Hermans butuh pembuktian. Sederet prestasinya akan diuji kembali dengan status baru sebagai pelatih...
Pay-Team: Fenomena Jual-Beli Tim di Liga Pro Indonesia
Oleh: Alhimni Rushdi Februari 2016 menjadi bulan yang membahagiakan bagi sebagian masyarakat Indonesia,...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

Lost Password