Perlunya Fanatisme di Futsal

Perlunya Fanatisme di Futsal

Oleh : Fajar

Unjuk rasa suporter hingga berujung perusakan terhadap fasilitas stadion, kerusuhan antar suporter hingga terenggutnya nyawa, menjadi beberapa wajah ‘buruk’ dari sebuah bentuk fanatisme. Kecintaan yang sangat besar terhadap tim atau pemain kadang membuahkan bentuk ekspresi yang berlebihan.

Faktor-faktor yang biasa menjadi penyebab timbulnya aksi tidak terpuji sebagai bentuk fanatik diantaranya, kekalahan, penurunan performa tim, kebencian terhadap tim rival, hingga intimidasi terhadap lawan. Bentuk rasa cinta terhadap tim kesayangan tersebut tak selalu berbuah baik, malah lebih berdampak buruk terhadap timnya, yang paling sering terjadi adalah sanksi.

Tapi tak sepenuhnya fanatisme itu negatif, bahkan mungkin kenegatifan dari fanatisme sangat sedikit jika dibandingkan dengan dampak positifnya. Bentuk paling nyatanya adalah dukungan suporter terhadap tim. Dengan datang ke stadion saja itu sudah menambah rasa percaya diri tambahan bagi tim tuan rumah (yang didukung) dan memberikan efek intimidasi terhadap lawan.

Apalagi jika dibarengi dengan atribut dan chant-chant dukungan untuk tim tersebut (dengan catatan tidak berbau rasis), pastinya akan lebih memberikan efek positif terhadap tim kesayangan. Itulah kenapa tim-tim dengan basis suporter yang besar & loyal memiliki tingkat kemenangan di kandang yang lebih tinggi dibanding tim yang basis suporternya lebih sedikit.

Di sepakbola, fanatisme dan loyalitas suporter itu sudah tak perlu diragukan lagi. Tapi di futsal, terutama Indonesia, hal semacam itu belum terlalu terlihat dan terasa. Gor-gor yang menjadi venue pertandingan futsal mungkin sering penuh, tapi apakah mereka datang berdasarkan fanatisme? Belum tentu! Bahkan bisa dibilang kemungkinan besar, tidak.

Kenapa ? karena sebagian besar, kedatangan suporter ke venue futsal bukanlah fanatisme terhadap salah satu tim tapi lebih kepada kecintaan mereka pada futsal secara umum. Antusiasme suporter menonton futsal lebih karena daya tarik pemain atau pelatih, kalaupun kecintaan pada klub, paling hanya pada klub-klub bertabur pemain bintang, seperti Vamos Mataram & Bintang Timur Surabaya, itupun masih terbilang sedikit.

Fanatisme di futsal harus muncul, bahkan kalo bisa, diciptakan. Agar futsal menjadi lebih menarik, antusiasmenya menjadi lebih meningkat, dan status ‘kandang’ atau tuan rumah menjadi lebih berdampak. Bisa saja, tim-tim yang memang belum memiki basis suporter mencoba merangkul dan berkoordinasi dengan para suporter untuk membuat sebuah komunitas. Atau mungkin jika perlu, terafiliasi dan memakai nama tim klub sepakbola yang ada di daerahnya masing-masing, contohnya FC Barcelona di Spanyol.

Mungkin di Indonesia bisa pakai nama “Persija Halus Jakarta” “Persib 35 Bandung” “Bintang Timur Persebaya” dll, meskipun secara kepanjangan sangat jelas untuk sepakbola, tapi setidaknya untuk memunculkan fanatisme dan basis suporter yang besar. Setidaknya akan terlihat menarik, jika yang datang ke stadion memakai atribut tim kesayangan terutama tim tuan rumah, dengan warna ciri khas tim tersebut. Mereka datang dengan tujuan untuk mendukung timnya agar menang bukan sekedar menikmati pertandingan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

Lost Password