Pay-Team: Fenomena Jual-Beli Tim di Liga Pro Indonesia

Pay-Team: Fenomena Jual-Beli Tim di Liga Pro Indonesia

Oleh: Alhimni Rushdi

Februari 2016 menjadi bulan yang membahagiakan bagi sebagian masyarakat Indonesia, hal ini terjadi setelah salah satu tim peserta Formula 1, Manor Racing mengumumkan bahwa mereka akan mengontrak salah satu putra Indonesia sebagai pembalap mereka, yaitu Rio Haryanto. Rio akan mendampingi Pascal Wehrlein asal Jerman sebagai pembalap di tim asal Inggris itu.

Tampilnya Rio di F1 ini pun memunculkan pro kontra di banyak pihak, bukan rahasia lagi bahwa Rio dikontrak karena mampu membayar sejumlah uang sebagai “biaya pendaftaran” untuk masuk di F1. Manor Racing sendiri mewajibkan Rio untuk membayar sebanyak 15 juta euro sebagai syarat untuk menjadi pembalap mereka.

Fenomena masuknya Rio ke F1 sendiri sudah cukup lazim terjadi di ajang balapan jet darat tersebut. Fenomena itu disebut pay-driver, yaitu seorang pembalap yang membayar sejumlah uang agar bisa berlaga di ajang balap mobil tercepat di dunia itu. Dan kini, fenomena itu terjadi di Indonesia, namun jauh dari dunia balapan, kejadian itu terjadi di dunia futsal, yang mungkin bisa disebut fenomena pay-team.

Jual beli jatah di Pro Futsal League

Menjelang pelaksanaan Pro Futsal League 2018 yang akan bergulir mulai Januari mendatang, kabar mengejutkan datang dari salah satu kontestan asal Jogja yaitu SFC Planet Sleman yang dikabarkan sedang menjual slot partisipasi mereka di PFL 2018. Hal itu dikonfirmasi oleh sang manajer, Budi Handoko yang ingin berfokus untuk mengurusi bisnisnya yang lain sehingga memutuskan untuk menjual slot mereka.

Fenomena ini bukanlah sesuatu yang langka di dunia futsal Indonesia, di PFL 2018 saja sudah ada dua tim yang muncul setelah membeli slot tim lain, mereka adalah SKN FC Kebumen yang mengakuisisi jatah dari BJL Semarang dan tim merger My Futsal Cosmo yang mendapat jatah mereka setelah membeli dari Antam FC Jakarta. Tak cukup sampai disitu, di PFL 2017 muncul nama Kaimana FC yang tampil di kasta teratas futsal Indonesia setelah mengakuisisi FC Libido Bandung, ada pula Giga FC Kota Metro Lampung yang membeli Bie The Great Bekasi dan Permata Indah Manokwari yang mengakuisisi penuh Pinky Boys Makassar.

Membeli jatah untuk tampil di sebuah kompetisi, sama seperti yang Rio hadapi bukan?

Resiko dan tantangan menjadi pay-team

Rio Haryanto hanya mampu bertahan sampai seri balapan ke 12 dari total 21 seri yang dijadwalkan. Karena dalam prosesnya, Rio hanya mampu membayar 8 juta euro sehingga posisinya digantikan oleh Esteban Ocon asal Prancis sejak GP Belgia. Posisi Rio sendiri diturunkan dari pembalap utama menjadi pembalap cadangan.Terlepas dari fakta bahwa Rio mampu menjadi juara di beberapa balapan GP2 (kelas dibawah F1), Rio tetap gagal melanjutkan aksinya karena masalah finansial. Lalu bagaimana dengan di futsal Indonesia?

Salah satu pay-team PFL 2017, Kaimana FC menjadi perbincangan hangat publik futsal Indonesia di medio April 2017 lalu. Belum adanya kepastian tentang kehadiran Kaimana FC di Mataram yang menjadi venue PFL 2017 pekan keenam menjadi penyebabnya. Para pemain Kaimana FC masih belum bisa memastikan kehadiran setelah mereka masih belum mendapatkan tiket untuk berangkat ke Mataram. Kejadian itu seakan menjadi puncak krisis finansial yang mendera tim asal Papua tersebut setelah sebelumnya mereka juga diberitakan masih menunggak gaji pemainnya. Selain itu, penampilan Kaimana FC sendiri selama pagelaran PFL 2017 juga jauh dari kata memuaskan karena hanya mampu meraih satu poin dari seluruh pertandingan grup B PFL 2017. Kaimana FC sendiri berdalih minimnya persiapan menuju PFL 2017 menjadi alasan dibalik kegagalan mereka di divisi teratas futsal Indonesia itu.

Kegagalan Kaimana FC tersebut seakan mengulang cerita dari Rio Haryanto di ajang F1. Meskipun diperkuat oleh pemain berkualitas seperti Geordiyan Dermawan dan Al Fariz, masalah finansial yang terjadi di tubuh tim Papua ini membuat mereka gagal mengakhiri musim dengan indah.

Manajemen yang berkualitas akan menjadi kunci

Menjadi pay-team di sebuah liga yang kompetitif seperti PFL memang memiliki tantangan yang sangat besar karena harus menjadi profesional dan berkualitas baik secara permainan maupun manajerial dengan waktu yang tidak banyak. Apa yang terjadi pada Kaimana FC ini tentu tidak diharapkan untuk terjadi lagi di musim selanjutnya, khususnya pada SKN FC Kebumen dan My Futsal Cosmo yang akan memulai kompetisi dengan jalur yang sama dengan yang dilalui oleh Kaimana FC.

Namun tak hanya cerita buruk, kompetitifnya Giga FC Kota Metro Lampung dan Permata Indah Manokwari di PFL 2017 juga menjadi sebuah catatan manis bagi futsal Indonesia. Bahkan Permata Indah Manokwari berhasil melangkah jauh hingga menjadi juara 2 di akhir musim. Tentu sangat menarik ditunggu, apakah dua pay-team ini akan mengakhiri kompetisi seperti Kaimana FC? Atau akan berprestasi seperti Giga FC Kota Metro Lampung dan Permata Indah Manokwari? Menarik untuk ditunggu!

Foto: Koran Sindo

Baca juga:
Indonesia di AFF Futsal Championship 2017, Optimis atau Pesimis?
Kemampuan Indonesia Mengatasi Ketegangan di Laga Pembuka Munculnya duet andalan baru, Subhan-BBS ...
Ini Hal Yang Dapat Menaikkan Pamor Futsal
Oleh: Fajar Aprilian Futsal? Apa itu futsal? Sebagian orang awam pasti hanya tahu bahwa futsal merupakan...
Galang Silaturahmi Antar Pelaku Pasar Modal, Camaro Futsal Competition 2018 Kembali di Gelar
Oleh : Bayu Qolyubi Jakarta – Capital Market Journo (CAMARO) atau kumpulan wartawan pasar modal...
Rebut Ratusan Juta, Puluhan Tim Siap Berlaga di “Camaro Futsal & Badminton Challenge 2017”
Jakarta – Asosiasi Wartawan Pasar Modal Indonesia (AWPMI) pada Sabtu, (07/10/2017) kembali menggelar...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

Lost Password