Ini Lima Pemain Futsal Kelas Dunia Yang Pernah Bermain di Indonesia

Ini Lima Pemain Futsal Kelas Dunia Yang Pernah Bermain di Indonesia

Mulai dari calon pemain terbaik dunia, mantan kiper terbaik dunia, hingga pencetak gol terbaik dua seri Piala Dunia.

Publik futsal dunia mulai menaruh perhatian kepada liga kasta tertinggi Indonesia, Pro Futsal League (PFL). Hal tersebut tidak lepas dari kehadiran sejumlah pemain asing dalam beberapa musim terakhir. Musim ini, tercatat ada 11 pemain asing yang dikontrak oleh enam klub PFL.

Secara kuantitas, memang jumlah pemain asing di PFL tidak bertambah dalam dua musim terakhir. Namun, secara kualitas pemain yang didatangkan para klub PFL semakin baik tiap tahunnya. Apalagi, pemain asing yang datang harus berstatus pemain tim nasional di negara asal mereka.

Ini tentu menjadi hal positif bagi pihak penyelenggara liga. Selain membuat pertandingan PFL semakin seru, kehadiran pemain asing dapat mendongkrak antusias para pencinta futsal Indonesia untuk datang langsung ke stadion. Para pemain tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas para pemain lokal.

Sejauh ini, sudah ada 32 pemain asing yang pernah merasakan atmosfer PFL. Alasan mereka untuk datang ke Indonesia pun beragam. Beberapa pemain memilih ke Indonesia, karena kompetisinya di negara asalnya sedang jeda. Sementara itu, beberapa pemain lain coba mencari sensasi baru untuk bermain di depan ribuan suporter.

Futsalzone pun sudah merangkum lima bintang futsal dunia yang pernah bermain di kasta tertinggi futsal Indonesia.

Mostafa Nazari

Mostafa pertama kali direkrut Vamos FC Mataram untuk menghadapi AFC Futsal Club 2018. Tampil gemilang sepanjang turnamen, pemain asal Iran itu pun mendapat perpanjangan kontrak untuk bermain PFL 2019. Dia turut menjadi bagian dari skuad juara Vamos musim itu, meski lebih banyak absen pada putaran kedua.

Mostafa bukanlah nama sembarangan di dunia futsal. Dia merupakan peraih gelar penjaga gawang terbaik dunia versi Futsalplanet pada 2010. Sejauh ini, mantan pemain Giti Pasand itu menjadi satu-satunya pemain asal Asia yang berhasil memenangkan gelar di ajang penghargaan paling bergengsi di dunia futsal tersebut.

Mostafa juga sudah meraih banyak penghargaan baik di level klub maupun tim nasional. Dia berhasil meraih tiga gelar AFC Futsal Club, dan empat gelar Iranian Futsal Super League (FSL) bersama tiga tim berbeda. Pemain berusia 37 tahun ini juga menjadi bagian dari timnas Iran yang menjuarai Piala Asia Futsal 2007, 2008, dan 2010, serta Piala Konfederasi 2009.

Mostafa saat ini masih bermain di liga Iran bersama Sunich Saveh. Dia bermain bersama beberapa pemain yang masih beberapa pemain berstatus timnas lain seperti Taha Nematian, Mehdi Ameri, dan Alireza Javan. Musim ini, mereka berhasil mencapai semi-final  FSL untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.

Suphawut Thueanklang

Siapa yang tidak kenal Suphawut? Pemain asal Thailand ini pernah bermain di PFL bersama Black Steel Manokwari pada musim 2018. Saat itu, dia dan Kritsada Wongkaeo didatangkan dari Chonburi Bluewave dengan status pinjaman. Sayangnya, kedua pemain tersebut gagal bermain di babak final four karena harus kembali ke Chonburi.

Suphawut dan Chonburi memang menjadi dua hal yang sulit untuk dipisahkan. Bersama The Sharks, pemain berusia 30 tahun itu sudah merengkuh dua AFC Futsal Club Championship, satu AFF Futsal Club Championship, tujuh Liga Futsal Thailand, dan empat Piala FA Thailand.

Suphawut juga menjadi andalan timnas futsal Thailand dalam dua penyelenggaran Piala Dunia Futsal terakhir. Pemain berposisi pivot itu sukses bukukan sembilan gol dari delapan pertandingan Piala Dunia. Salah satu yang paling berkesan adalah ketika dia mencetak hattrick ke gawang Kuba pada Piala Dunia 2016.

Pemain terbaik Asia 2013 itu tidak hanya dikenal karena jumlah golnya, yang jauh lebih banyak dari jumlah penampilannya. Dia juga terkenal memiliki kelebihan untuk mencetak gol spektakuler. Suphawut merupakan peraih penghargaan Goal of The Tournament pada Piala Dunia 2012 dan 2016.

Black Steel bukanlah satu-satunya klub dari luar Thailand yang pernah dibela Suphawut. Sebelumnya, dia sempat menjalani trial bersama Santiago Futsal. Dia juga pernah memperkuat dua klub Iran Persepolis Behzisti dan Mes Sungun, serta raksasa Lebanon Bank of Beirut. Musim ini, Suphawut akan jalani tantangan baru bersama Nagoya Oceans di Jepang.

Henrique da Cunha Elgart

Pemain yang akrab disapa Di Maria ini merupakan satu dari sepuluh nama calon pemain futsal terbaik dunia 2019. Meski hanya menempati peringkat kedelapan pada hasil pemungutan suara akhir, hal ini sudah menjadi gambaran betapa spesial kemampuannya.

Sebelum merapat ke Black Steel untuk musim 2020, Di Maria baru saja merengkuh gelar liga kasta tertinggi Brasil, Liga Nacional de Futsal, untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Dia menjadi bagian integral dari tim Pato Futsal, yang mengalahkan Magnus Futsal di final LNF 2019 lewat agregat 9-2. Flank asal Brasil itu tercatat mencetak lima gol di liga sepanjang musim, termasuk dua gol di final leg kedua.

Sebelumnya, dia juga pernah menjuarai Copa Libertadores Futsal bersama Carlos Barbosa pada 2017. Di Maria memang merupakan tipe pemain yang terlambat bersinar. Dia semakin matang seiring bertambahnya waktu, dan kini tengah mengincar gelar PFL perdananya pada usia 36 tahun.

Kaoru Morioka

Kaoru sebenarnya lahir di Peru pada 1979, tetapi sudah pindah ke Jepang bersama keluarganya sejak usia 12 tahun. Dia sempat beberapa kali mendapat panggilan dari timnas Peru, tetapi hanya mengikuti pemusatan latihan agar tetap bisa membela Jepang. Kaoru pun resmi menjadi warga negara Jepang pada 2 Agustus 2012, dan langsung bermain di Piala Dunia 2012.

Sejak saat itu, Kaoru hampir tidak pernah keluar dari skuad Samurai Five. Peraih empat gelar pemain terbaik liga Jepang itu juga menjadi bagian dari skuad juara Piala Asia 2014. Meski sudah tidak muda lagi, dia masih menjadi bagian dari skuad Jepang yang tengah bersiap menghadapi Piala Asia 2020.

Kaoru menghabiskan sebagian besar kariernya bersama Nagoya Oceans. Selama sembilan musim bersama The Oceans, dia berhasil merengkuh dua gelar AFC Futsal Club, sembilan F. League, lima F. League Ocean Cup, dan empat All Japan Futsal Championship. Dia pun melengkapi gelar tersebut dengan sejumlah penghargaan pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak.

Kaoru pertama kali bermain di luar Jepang bersama klub Tiongkok, Shenzhen Nanling Tielang pada 2016. Dia pun sempat memperkuat Bintang Timur Surabaya, dengan status pinjaman dari Pescadola Machida, pada PFL 2018. Saat ini, dia memperkuat klub divisi teratas Spanyol O Parrulo FS.

Wilson Veiga Neto

Satu lagi pemain naturalisasi dalam daftar ini. Neto merupakan pemain kelahiran Foz do Iguacu, Brasil 30 tahun silam. Akan tetapi, dia memiliki darah Paraguay dari sang ibu Sandra Maria Piris. Bakat Neto pertama kali mendapat perhatian, ketika timnas Paraguay berujicoba dengan klub Brasil  Foz Cataratas. Pelatih Carlos Chilavert, yang mengetahui Neto memiliki keturunan Paraguay, langsung menawarinya kesempatan membela La Albirroja.

Keputusan tersebut terbukti sukses, karena Neto langsung membawa Paraguay menempati peringkat ketiga Copa America 2017. Bahkan, pemain berposisi fixo itu langsung menjadi pencetak gol terbanyak pada turnamen debutnya tersebut lewat catatan enam gol.

Neto kembali ke pemusatan latihan timnas Paraguay pada awal tahun ini di Kualifikasi Piala Dunia Zona Amerika Selatan. Dia kembali membawa Guaranies kembali menempati posisi ketiga, dan berharap bisa ikut ambil bagian pada Piala Dunia Futsal 2020 di Lithuania.

Neto sempat merasakan atmosfer PFL bersama IPC Pelindo II pada 2019. Saat itu, dia direkrut tim pelabuhan tersebut bersama pemain Azerbaijan Fineo de Araujo. Neto juga pernah bermain di Prancis bersama Bethune Futsal, serta Benago Futsal dan Sparta Praha di Republik Ceko. Musim ini, dia bermain di liga Portugal bersama AD Fundao.

Lost Password