Kepulauan Solomon, Sang Kuda Hitam Langganan Piala Dunia Futsal

Kepulauan Solomon, Sang Kuda Hitam Langganan Piala Dunia Futsal

Meski belum memiliki fasilitas memadai, Solomon sanggup tembus Piala Dunia untuk keempat kalinya.

Kepulauan Solomon merupakan sebuah negara berdaulat berbentuk kepulauan yang terletak di benua Oseania. Solomon terdiri dari enam pulau utama, dan 900 pulau yang lebih kecil. Negara bekas jajahan Inggris itu beribukota di Honiara.

Solomon memiliki luas area sebesar 28.400 kilometer persegi, tetapi hanya dihuni oleh 652.857 orang pada survey 2018. Sebagai perbandingan, jumlah tersebut hampir setara dengan populasi dua kecamatan di Tambun, Kabupaten Bekasi.

Nama Solomon jarang kita dengar di dunia olahraga. Mereka bahkan belum meraih satu medali pun selama keikutsertaan di Olimpiade. Meski begitu, olahraga sudah menjadi budaya yang tidak terpisahkan di negara tersebut.

Kriket, australian football, rugby union, dan pacuan kuda jadi olahraga yang pertama kali populer. Akan tetapi, sepakbola dengan cepat mendapatkan panggungnya di Solomon. Namun, mereka masih kesulitan untuk bersaing di level internasional. Solomon hanya menempati peringkat 141 dunia hingga Juni 2020.

Oleh karena itu, negara yang terletak di Samudera Pasifik tersebut mengalihkan fokus ke olahraga naungan FIFA lainnya, yaitu sepakbola pantai dan futsal. Tim nasional sepakbola pantai Solomon bahkan sempat menduduki peringkat ke-14 dunia pada 2010, dan lima kali berpartisipasi di Piala Dunia Sepakbola Pantai.

Tetapi, dominasi sepakbola pantai Solomon di Oseania sudah tergeser Tahiti dalam beberapa tahun ke belakang. The Bilikiki Boys gagal bermain di Piala Dunia pada tiga penyelenggaraan terakhir. Sementara itu, Tahiti justru mampu lolos hingga babak final pada 2015 dan 2017.

Futsal pun menjadi jalan terakhir bagi Solomon untuk mendapatkan atensi internasional. Sejak Australia pindah ke zona AFC, timnas futsal Solomon sukses menjuarai lima dari tujuh penyelenggaraan OFC Futsal Championship. Mereka pun selalu lolos ke Piala Dunia Futsal sejak 2008.

Perjalanan pertama mereka di Piala Dunia tidak berjalan mulus. Solomon harus menelan empat kekalahan telak selama babak grup, dan kebobolan sebanyak 69 kali. Kekalahan 31-2 dari Rusia bahkan menjadi kekalahan terbesar sepanjang sejarah Piala Dunia.

Pengalaman buruk itu tidak melunturkan semangat para pemain Solomon. Mereka justru gembira, karena bisa bermain dengan para pemain kelas dunia.

“Ketika kami berada di Brasil [2008], kami belum tahu cara bermain. Itu merupakan yang pertama bagi kami. [Pertandingan] itu seperti anak-anak melawan orang dewasa,” ujar anchor Solomon, James Egeta di situs resmi FIFA.

“Sejak olahraga ini diperkenalkan kepada kami di usia 12 tahun, dan kami melihat Falcao, saya hanya berkata ‘saya berharap bisa bermain melawan orang ini’, dan kemudian mimpi saya menjadi kenyataan.”

Empat tahun berselang, Solomon datang ke Piala Dunia Thailand dengan persiapan yang lebih matang. Meski kembali gagal lolos ke babak penyisihan, The Kurukuru berhasil meraih kemenangan pertama saat menundukkan Guatemala lewat skor 4-3.

Pada 2016, Solomon kembali bermain di Piala Dunia Kolombia. Meski pulang tanpa membawa poin, mereka mengalami peningkatan pesat secara permainan. The Kurukuru bahkan mampu memaksa Argentina ‘hanya’ menang 7-3.

La Albiceleste pada akhirnya berhasil keluar sebagai juara. Pertahanan tangguh Nicolas Sarmiento dkk menjadi kunci mereka meraih gelar. Sepanjang turnamen hanya ada dua tim yang mampu mencetak lebih dari dua gol ke gawang Argentina, yaitu Kepulauan Solomon dan Rusia di final.

Solomon sudah memastikan akan kembali berlaga di Piala Dunia untuk keempat kalinya. Hal tersebut dapat dipastikan, setelah mereka mengalahkan Selandia Baru di final OFC Futsal Nations Cup 2019. Solomon bermain imbang 5-5 dalam waktu normal, sebelum menang 2-1 pada babak adu penalti.

Mundurnya Piala Dunia Lithuania ke 2021 juga dianggap sebagai keuntungan bagi Solomon. Skuad asuhan Vinicius Leite akan memiliki waktu lebih untuk mematangkan skema permainan. Mereka juga dapat menggulirkan kompetisi futsal nasional untuk menyeleksi para bakat terbaik.

“Penundaan ini tidak mengejutkan sebenarnya. Kami dapat melakukan lebih banyak persiapan, kompetisi internal, sehingga tahun depan kami bisa melanjutkan program pemusatan pelatihan, jika perbatasan sudah dibuka,” ujar William Lai, Presiden Asosiasi Sepakbola Kepulauan Solomon (SIFF) kepada RNZ.

“Kami berencana kembali memulai kompetisi pada April, tetapi karena Covid-19 kami berhenti, jadi saya pikir tidak terlalu lambat [untuk memulai kembali]. Kami akan memulai kompetisi tersebut mungkin dalam waktu beberapa minggu lagi.”

Apapun hasil yang akan mereka raih di Lithuania, The Kurukuru sudah melewati ekspektasi publik. Mereka berhasil empat kali lolos Piala Dunia secara berturut-turut, meski belum memiliki satu pun lapangan futsal berstandar internasional. Mereka pun masih mendapatkan perlengkapan dasar seperti sepatu, bola, dan seragam dari hasil donasi.

Sebenarnya, penantian Solomon untuk memiliki arena futsal internasional akan segera berakhir. Mereka sudah menyepakati bantuan pembangunan arena futsal dengan pemerintah Indonesia di Bali pada akhir 2019. Arena tersebut akan mulai digunakan pada Pacific Games 2023.

Lost Password