Ini Dua Faktor Kemenangan BTS atas Pelindo II

Ini Dua Faktor Kemenangan BTS atas Pelindo II

Oleh: Fajar Aprilian

Laga seru tersaji di GOR Tri Dharma Gresik antara Bintang Timur Surabaya melawan IPC Pelindo. Pertandingan yang memperebutkan tiket terakhir ke final four, setelah tiga slot lainnya sudah diisi Vamos Mataram, SKN FC, dan Blacksteel Manokwari ini berlangsung dengan tensi tinggi. Sebelum pertandingan BTS berada diperingkat Dua dengan 27 poin dari 12 pertandingan, sedangkan IPC Pelindo mengoleksi 24 poin dari 12 pertandingan diposisi ketiga.

Diawal pertandingan sudah terlihat, IPC yang lebih butuh kemenangan mencoba mengambil inisiatif serangan lebih dulu, ketimbang BTS yang lebih sering menunggu dan memanfaatkan serangan balik. Pertandingan yang sangat penting bagi kedua tim membuat tensi pertandingan menjadi sangat tinggi.Sepanjang pertandingan terjadi beberapa clash antara pemain-pemain dari kedua tim, walaupun bukanlah sebuah pertengkaran besar, tapi jelas menjadi warna tersendiri dalam pertandingan ini. Puncak ketegangan di pertandingan ini adalah ketika tim IPC Pelindo memprotes keputusan wasit yang tidak mengesahkan sontekan Jaelani Ladjanibi memanfaatkan umpan Fineo pada pertengahan babak kedua. Terlihat pelatih, pemain, official sangat kesal dan melakukan protes keras, sehingga pertandingan harus terhenti beberapa saat.Pertandingan krusial dan seru ini berakhir dengan kemenangan tipis BTS dengan skor 4-3.

Dari jalannya pertandingan, setidaknya ada dua hal penting yang mempengaruhi hasil akhir dipertandingan ini.

IPC MINIM KREATIFITAS

Yang pertama adalah dari kubu IPC pelindo, anak asuh Dadang Iskandar ini selalu mengandalkan serangan dari dua pemain asing mereka, Fineo dan juga Neto. Serangan selalu diawali kedua pemain ini, bahkan praktis karena pada akhirnya bola juga selalu kembali diarahkan kepada dua pemain ini, maka serangan pun sering kali berakhir di kaki Fineo ataupun Neto, kalau tak salah passing atau bola berhasil direbut, maka shooting dari Neto lah yang menjadi akhir serangannya.

Pola serangan yang monoton seperti itu mudah sekali dibaca dan diantisipasi oleh para pemain BTS, ditambah menit bermain yang bisa dibilang terlalu lama yang diberikan kepada Fineo dan Neto juga berdampak buruk, selain dari segi stamina mereka terkuras lebih banyak dibanding pemain lain, gaya permainan mereka pun menjadi terbaca, kalau tidak salah mereka hanya diganti 2-3 saja sepanjang pertandingan.

Serangan dari Randy Satria, dkk, baru membuahkan hasil saat mereka memutuskan memainkan skema powerplay sejak menit 29. Walaupun mereka harus kebobolan tiga gol tambahan tapi setidaknya lewat skema ini mereka berhasil melesatkan 3 gol dan lebih banyak membahayakan gawang yang dijaga M Nazil.

SOLIDNYA PERTAHANAN BTS

Selain minimnya kreatifitas dari para pemain IPC, solidnya pertahanan BTS juga menjadi hal yang sangat berpengaruh terhadap kemenangan anak asuh Hicham Benhamou ini.Para pemain Bintang Timur Surabaya bermain dengan zona pertahanan yang sangat dalam, mereka benar-benar menunggu disetengah area lapang, dengan tidak langsung melakukan pressure pada lawan jika bola dirasa memang belum terlalu mengancam gawang mereka.

Iqbal Iskandar dan kolega benar-benar menutup rapat barisan pertahanan BTS, apalagi mereka juga mampu menutup Fineo dan Neto, sehingga kemampuan terbaik mereka tidak keluar dipertandingan ini. Disiplinnya barisan pertahanan BTS ditambah tak banyak ruang juga yang mampu dibuat IPC, membuat serangan lebih sering berakhir dengan tembakan-tembakan yang tak mengarah ke gawang, tiga gol yang bersarang kegawang M Nazil adalah lahir dari skema powerplay dan kesalahan M Nazil sendiri, selebihnya tak banyak peluang emas yang mampu dibuat anak-anak asuh Dadang Iskandar.

Dengan hasil ini, IPC Pelindo II tetap diposisi ketiga, sedangkan Bintang Timur Surabaya berhasil menemani Blacksteel Manokwari yang kokoh dipuncak klasemen ke final four dan bertemu salah satu tim antara Vamos Mataram ataupun SKN FC di grup B.

Foto: Bintang Timur Surabaya

Baca juga:
Indonesia di AFF Futsal Championship 2017, Optimis atau Pesimis?
Kemampuan Indonesia Mengatasi Ketegangan di Laga Pembuka Munculnya duet andalan baru, Subhan-BBS ...
Vamos di AFC 2017: Kurang Adaptasi atau Masalah Mental?
Oleh Alhimni Rusdi Perjalanan Vamos Mataram di AFC Futsal Club Championship 2017 diakhiri dengan kemenangan....
BFL 2017 : 4 Faktor Keberhasilan Mataram FC Tembus Final Four
Mataram FC berhasil mengunci satu tiket ke Babak Final Four Blend Futsal League 2017. Mereka berhasil...
Andai Ada Perang Bintang di Pro Futsal League
OLEH: Fajar Aprilian Pro Futsal League musim 2019 telah berakhir. Selama kurang lebih 5 bulan seluruh...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

Lost Password