Batu Sandungan Itu Bernama Malaysia

Batu Sandungan Itu Bernama Malaysia

Oleh : Harri Fajri

Timnas Futsal Indonesia harus kembali tersandung oleh malaysia, setelah sebelumnya sempat melaju mulus mengkandaskan myanmar 5 -1 pada pertandingan pertama Grup A AFF Futsal Championship 2018. Menengok rekor dua pertemuan sebelumnya, Malaysia selalu sukses menjegal laju Indonesia.

Berangkat dengan modal menang pertandingan pertama plus keinginan membalas dendam terhadap negeri tetangga, laga penuh gengsi tersebut berlangsung dengan tempo cepat. Namun, kerikil – kerikil tajam mulai disebar Ayon dkk, dibuka dengan set piece yang dieksekusi secara apik pada awal-awal babak pertama, membuat Malaysia unggul cepat. Disusul dengan tambahan dua gol melalui set piece, memperlebar margin angka 3 – 0 untuk Malaysia yang diperoleh hanya dalam kurun waktu 6 menit.

Bagaimana respon Sunny dkk? Seperti dilecut semangat tak mau kalah, Garuda Indonesia menerjang pertahanan lawan secara bertubi tubi. Jerih payah Indonesia berbuah 4 gol pada babak pertama, lalu kembali disamakan Malaysia lagi-lagi melalui set piece. Skor 4 – 4 menutup babak pertama, skuad Indonesia menuju ruang ganti dengan nafas sedikit lega.

Namun ada masalah pada skema permainan anak asuh Kensuke Takahashi. Seolah sulit menemukan skema open play yang efektif, serangan Indonesia yang dimotori Bayu Saptaji sering menempuh cara melalui aksi individu pemain. Memang upaya ini membuahkan hasil, namun cara seperti itu justru membuat kolektifitas tim menurun. terbukti kubu Indonesia cepat kehilangan bola, dan cenderung memaksakan diri berduel dengan pemain Malaysia. Kesalahan – kesalahan elementer juga tampak menjadi penghambat berkembangnya permainan Indonesia.

Memasuki babak kedua, Indonesia mengambil inisiatif menyerang yang mana tidak membutuhkan waktu lama merubah papan skor menjadi 5 – 4 untuk keunggulan Indonesia. sadar Indonesia yang kian agresif, Malaysia segera meladeni permainan Indonesia, yang tak pelak menaikan atmosfer pertanding menjadi kian panas. Di tengah tempo yang sedang naik, Malaysia berhasil mencuri gol yang menyamakan kedudukan. semenjak keadaan imbang, indonesia kehilangan konsentrasi yang harus diganjar dengan koyaknya gawang Nazil Purnama untuk keenam kalinya.

Menjelang akhir laga, Kensuke menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain powerplay. Usaha punggawa Indonesia tidak juga berbuah gol, malahan malaysia yang kembali mencuri gol lewat serang balik, sekaligus menutup laga dengan kemenangan Malaysia 5 – 7.

Perlu diingat bahwa sebetulnya Malaysia tidak tampil begitu spesial. Malaysia tetap Malaysia yang mengandalkan kecepatan pemainnya dan mencuri – curi peluang melalui serangan balik. Hanya saja, tim Garuda acap kali kehilangan momentum saat penguasaan bola. Tidak lain hal tersebut terjadi karena Indonesia banyak melakukan human error saat Malaysia menekan didaerah pertahanan Indonesia. Opsi passing yang tidak banyak juga menjadi faktor yang perlu dicermati, sebab sering kali pemain Indonesia yang menguasai bola melakukan solo run, karena tidak nampaknya pemain yang memberi support kepada pemain yang menguasai bola.

Serangan – serangan Indonesia juga tidak tersusun dengan rapi. Terlihat bagaimana Indonesia begitu mengandalkan aksi – aksi individu pemain semisal, Ardiansyah Runtuboy. Skema serang yang dibangunpun terkesan teburu – buru dan tak tentu akan dituntaskan seperti apa.

Sementara disektor pertahanan, Indonesia masih nampak celah – celah pertahanan yang tercipta akibat kurangnya komunikasi pemain saat bertahan. tidak heran, pemain malaysia sering muncul dari arah yang tidak diduga duga. Salah satu contohnya adalah, bagaimana tiga gol yang bersarang ke gawang Indonesia tercipta karena lengahnya pengawasan terhadap skuad Harimau Malaya.

Hasil akhir ini, bukanlah hasil yang menguntungkan bagi kubu Indonesia. dua punggawa indonesia yaitu Muhammad Iqbal dan Andri kustiawan harus menyudahi laga lebih awal karena menderita cedera. Padahal guna menjaga asa lolos fase grup, Bayu Saptaji dkk harus memetik kemenangan melawan Kamboja. Tentu sokongan dari skuad yang komplit dan prima sangat berpengaruh terhadap hasil yang akan dipetik pada pertandingan esok hari.

Kensuke Takahashi musti segera menemukan formula yang tepat untuk memetik hasil yang gemilang. Sebetulnya Indonesia mempunyai modal disektor flank dan pivot. Pada dua sektor ini Kensuke bisa bereksplorasi lebih banyak untuk menemukan skema bermain yang jitu.

Tidak hanya Kensuke selaku pelatih, tapi seluruh bagian tim juga mesti berbenah. Kamboja bukanlah lawan yang bisa dianggap sebelah mata.

Foto : FFI

Baca juga:
Indonesia di AFF Futsal Championship 2017, Optimis atau Pesimis?
Kemampuan Indonesia Mengatasi Ketegangan di Laga Pembuka Munculnya duet andalan baru, Subhan-BBS ...
Khairul ‘Ayon’ Effendy: Gol Terbaik, Adaptasi Bermain dan Harapan di Partai Final
Pertandingan semifinal kedua Profesional Futsal League 2018 antara SKN GC Kebumen kontra Blacksteel Manokwari...
5 Pemain Terbaik Futsal Indonesia Berkaki Kidal
Berdasarkan banyak survey,persentase para pemain pesepakbola/futsal menggunakan kaki kiri saat bermain...
Timnas Futsal Indonesia : Antara Pesimis dan Kejutan
Oleh : Bayu Qolyubi AFF Futsal Championship 2018 tinggal menghitung beberapa hari lagi. Tentunya juga...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

Lost Password